Pajak di Mata Akuntansi

Akuntansi adalah cara hidup, cara berinteraksi, cara berkomunikasi dan cara untuk saling mempercayai dalam dunia bisnis dan ekonomi, serta dalam keseluruhan tatacara dan tertib administrasi di zaman modern. Pada prinsipnya, akuntansi digunakan untuk menyajikan berbagai informasi yang di-monetisasi alias informasi keuangan yang bagi penggunanya akan digunakan sebagai dasar pengambilan berbagai keputusan. Dalam dunia usaha ada akuntansi, dalam hidup rumah tangga ada akuntansi, di pemerintahan ada akuntansi. Akuntansi, adalah komunikasi.

Dengan berbagai interaksi yang terjadi di semua wilayah itu, akuntansi terbentuk menjadi kesepakatan-kesepakatan dan kebiasaan-kebiasaan. Hampir semua hal dinyatakan dan secara tidak langsung diatur secara demokratis berdasarkan suara terbanyak, dan secara mendasar dilandasi oleh nilai-nilai normatif jujur, transparan dan seimbang. Selanjutnya dengan bekal itu, umat manusia bekerjasma dan bahu-membahu menciptakan dunia yang lebih sejahtera.

Dalam praktek khususnya di dunia bisnis dan ekonomi, berbagai hal yang menyimpang, tidak biasa, tidak sesuai atau tidak mengacu pada kesepakatan dan kebiasaan yang dianut itu, akan dijauhi atau dihindari oleh para pelaku usaha. Sebab mereka yakin bahwa hal-hal yang demikian akan memiliki kecenderungan untuk kurang jujur, tak cukup transparan, tidak seimbang atau tak memenuhi prinsip keadilan. Maka, setiap pihak yang ada dan terlibat dalam dunia itu akan dipaksa untuk taat dan mengikuti aturan main yang dianut oleh mayoritas. Pilihan untuk nyentrik atau berani tampil beda dalam hal ini, bisa menjerumuskan suatu pihak ke dalam situasi yang tidak menguntungkan dan jelas akan membuatnya ketinggalan kereta.

Pajak dalam konteks ini, menumpang, menunggangi atau bahkan mengangkangi berbagai sistem dan sub sistem dalam dunia bisnis dan ekonomi yang template-nya adalah akuntansi. Tegas sekali kondisinya menuntut bahwa semestinya pajak dengan santun mengikuti aturan main yang ada. Jelas sekali bahwa pajak tidak bisa dengan begitu saja mengubah semua itu. Hanya saja dalam hal ini, seperti yang terjadi di mana pun di dunia, pajak memiliki keistimewaan berupa kewenangan lebih untuk memaksa setiap pihak mengikuti aturan mainnya sendiri. Namun bisa dipastikan bahwa jika kewenangan itu dipaksakan secara berlebihan maka pajak akan ditinggalkan. Maka pilihan yang paling bijaksana adalah; pajak diperbolehkan mengikuti konsepnya untuk memungut pajak dan mengatur berbagai hal untuk kepentingan yang lebih besar dan bahkan lebih besar daripada kepentingan untuk memungut pajak itu sendiri, namun pada saat yang sama tetap berjalan paralel dengan akuntansi, bukan bersaing atau berebut potensi dengannya. Pajak dan akuntansi semestinya menjadi mitra dan bukannya lawan berlaga.

Salah satu isu berkaitan dengan perkawanan atau permusuhan antara pajak dan akuntansi itu, biasanya dikenal dengan istilah differences atau perbedaan-perbedaan. Ada perbedaan yang permanen dan ada perbedaan yang temporer. Masing-masing punya implikasi terhadap pajak dan akuntansi. Di dalamnya ada tarik-menarik dan ada tolak-menolak antar keduanya. Pertanyaannya, adakah semua perbedaan itu mencerminkan posisi berjalan yang paralel di antara mereka? Ataukah justru mendemonstrasikan pertikaian yang tidak sehat dan merusak kepentingan yang lebih besar tadi?

Adalah tugas kita semua dalam menyongsong amandemen terhadap undang-undang perpajakan nanti, untuk mengeksplorasi dan meninjau ulang berbagai perbedaan yang selama ini kita terima begitu saja. Bisa jadi ada yang perlu di-redefinisi dan kemudian diperjelas duduk perkaranya. Kerangka berpikirnya adalah; perbedaan boleh saja tetap ada akibat kepentingan pajak untuk memungut dan mengatur, akan tetapi pijakannya haruslah tetap kepentingan yang lebih besar yaitu, kejujuran, transparansi, keseimbangan dan keadilan, dengan posisi berjalan yang tetap sejajar, tidak berlawanan atau menyimpang dengan dan dari akuntansi.

Para pelaku bisnis percaya bahwa akuntansi adalah kendaraan yang baik untuk bisa terus maju. Mereka masih bisa menerima jika rambu-rambu yang ada, diciptakan untuk membantu kepentingan mereka atau kepentingan ideal yang lebih besar. Namun mereka jelas akan menjauh jika rambu-rambu itu tidak jelas, tidak tegas atau jika keberadaanya justru berlebihan, penuh jebakan, mengarahkan mereka melenceng dari sasaran, atau bahkan menjadi hambatan. Jika pajak menjauhi dunia akuntansi, maka dunia usaha akan menjauhi pajak.

konsultanpajak-aaa.com konsultan-pajak.co.cc aris-aviantara.blogspot aviantara.wordpress

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: